Sebagai kesenian, tari rakyat adalah sumber kehidupan,
penghidupan, bagi si pelaku, dirinya, dan alam/lingkungan yang dihidupinya.....
Oleh karena itu pula tari rakyat sangat akrab dengan alam tempat lahirnya, sehingga
apa yang disampaikan seolah-olah merupakan simbol penghubung antara masyarakat
dengan alam, yang telah memberikan kehidupan dan penghidupannya. Bentuk yang disampaikan melalui materi (tarian
trebangan) yang sederhana, bebas dan spontan, menunjukan kepolosan dan
kepasrahan hidup dari masyarakatnya.
Tari rakyat
adalah tarian yang gerak terkait pada konteksnya, yaitu mengacu pada peristiwa
alam atau peristiwa seseorang penguasa yang dianggap telah berjasa bagi
masyarakat setempat dan diakuinya sebagai panutan oleh karuhun mereka secara
turun temurun sampai sekarang. Seperti halnya tari rakyat yang ada di desa
Jumbleng, Losarang, Indramayu, Jawa Barat. Tarian tersebut memiliki sejarah dan
nilai Historis tersendiri bagi masyarakatnya, tarian tersebut adalah tari Trebang Randu Kentir.
Pemberian
nama Randu Kentir sebetulnya masih
baru. Sebelumnya bentuk kesenian ini cukup disebut seni Trebang. Secara harfiah
pengertian Trebang Randu Kentir
sebagai berikut :
Tari TRE’BANG RANDU KENTIR, yang artinya : TRE’ adalah TRE’P atau Tepat, dan BANG
dari kata tembang, jadi Trebang
adalah tepat pada tembang. Randu
adalah pohon randu (pohon kapuk); kentir adalah
terhanyut/terbawa air mengalir sambil berputar-putar. Jadi dengan demikian
Randu Kentir mempunyai pengertian batang/pohon randu yang terhanyut terbawa
banjir.
Tari Trebang Randu
Kentir pada awalnya sebagai upacara adat di desa Jumbleng, karena memiliki
sejarah dan nilai yang dianggap masih berlaku bagi masyarakatnya.Sejarah
tersebut yaitu dari kisah hanyutnya Ki Dariwan di Sungai Cimanuk.Kejadian ini
oleh masyarakat :
“... tiap tahun diadakan penghormatan kepada Nyi
Dariwan,...” Tahun demi tahun masyarakat turut meramaikannya membantu membuat
alat kesenian dari alat yang sederhana sampai terbuatnya Blangber, yaitu dari
kayu yang besar penampangannya yang dilubangi di tengah ditutup dengan kulit
binatang”. (Kasan, 1989, hal.1).
Sedangkan nilai itu adalah tentang ajaran
agama yang terdapat pada syair lagu pada tari Trebang Randu Kentir itu. Sejarah yang lain terdapatnya seorang
penguasa di Losarang pada saat itu yaitu Ki Kuwu Sangkan yang menggunakan tari
tersebut sebagai media dakwah atau sebagai penyebar agama Islam.
“Kelompok
pertama yang paling besar adalah mereka yang benar-benar turunan seniman ...
mereka ini umumnya para dalang wayang ..., dalang topeng atau penabuh gamelan
untuk dua jenis ini. Kelompok yang satu lagi , yang lebih kecil, adalah
kelompok seniman yang bukan keturunan seniman, atau keluarga mereka yang belum
mempunyai sejarah yang panjang sebagai keluarga seniman. ...
Seniman Cirebon mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap garis
keturunannya. Mereka mengatakan bahwa mereka semua adalah keturunan Pangeran
Panggung” (Endo Suanda, 1990, hal. 33;34).
Dari fungsinya sebagai upacara adat dan penyabar agama
Islam pada waktu itu, dan karena perjalanan hidup yang berkembang sesuai dengan
kemajuan jaman, maka kesenian juga mengikutinya. Dari yang terdapat di desa
Jumbleng, Losarang ini tari tersebut memiliki fungsi yang beraneka ragam, yaitu
diantaranya sebagai upacara adat yang
meliputi upacara ngunjung, sedekah bumi, mapag sri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar