Senin, 15 Agustus 2016

Mistik Dalam kesenian tari Topeng Indramayu

Kemistisan Topeng Mama Carpan Cibereng Indramayu.


Seorang kakak saya meninggal gara-gara kedok. Kedoknya waktu itu di sesajeni. Kakak saya baru pulang dari sawah, dia pake itu kedok Klana, tapi nggak bisa dibuka. Nempel terus ke dalam kulit. Kakak saya, Winda, lari dan bilang pada orang tua saya. Mereka datang ambil kemenyan, tapi kulit muka kakak saya sudah terbawa kedok dagingnya melotot semua. Dia pingsan. Hidungnya sudah nggak ada, giginya kelihatan, lidahnya ya kelihatan semua. Dia meninggal. ( PESTA TOPENG CIREBON, 2-7 November 1993. hal, 71. SEPEREMPAT ABAD DEWAN KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI)


 

Minggu, 14 Agustus 2016

Gadis Kasinoman Ngarot Lelea Indramayu



Kasinoman
(Kasinoman dalam Upacara Adat Ngarot Desa Lelea Kecamatan Lelea Kab. Indramayu)
Upacara komunal tahunan lain di wilayah cirebon, yang kaitannya dengan pertujukan topeng adalah kasinoman . Kasinoman ini adalah semacam pesta atau upacara inisiasi untuk remaja, yaitu mereka yang cukup usia untuk berumah tangga tetapi belum menapat jodoh. Untuk kasinoman wanita di bebrapa desa di adakan pertunjukan topeng, yang dalangnya laki-laki. Upacaran ini bisa di adakan secara besar besaran, termasuk pawai (arak-arakan) mengelilingi desa, dengan para senimannya. Sekarang upacara kasinoman yan paling banyak di selengarakan adalah di kecamatan lelea, yang di sana disebut Ngarot, ( buku pesta topeng cirebon 2-7 november 1993 seperempat abad pusat kesenian jakarta taman ismail marjuki, hal 20) makalah yang di tulis oleh Endo Suwanda. 

Kasinoman : Mar'atun Khusnul Khotimah
Foto : Dede Jaelani 
Editing : Baybudin.




 Saweran Topeng di acara Ngarot Lelea Indramayu.
 
Pada pertunjukan Pak Carpan di acara Ngarot , ibu ibu itu melemparkan selendang dan uang , iya dlunya topeng kita jadi hiburan buat kasinoman perempunya, buat yang laki-laki, hiburanaya ronggeng ketuk. Sekrang remaja sukanya yang lain-lain, tapi topeng mesti terus di tangap. Ngak pernah absen. Yang terus nonton kita sehari semalam itu, ya ibu-ibu. Anak mudanya sudah ga kuat, dulu mah dapetnya banyak mereka nyawer uangnya royal selendangnya di lempar ke kita pas kitanya lage nari, nanti di kumpulkan, selendangya di kasih miyak wangi, yang punya selendang ngasih uang.    ( buku pesta topeng cirebon 2-7 november 1993 pusat kesenian jakarta, hal 73)
Penari Topeng : Mama Carpan ( Almarhum)
Foto : Ade Baelah
 




Gerakan dalam Tari Trebang Randoe Kentir Losarang





 
Gerakan dalam Tari Trebang Randoe kentir Losarang.

(Gerakan Tunggak kebanjiran) 
Penari Dwi Septiani KW


Sabtu, 13 Agustus 2016




Tari TRE’BANG RANDU KENTIR, yang artinya : TRE’ adalah TRE’P atau Tepat, dan BANG  dari kata tembang, jadi Trebang adalah tepat pada tembang. Randu adalah pohon randu (pohon kapuk); kentir adalah terhanyut/terbawa air mengalir sambil berputar-putar. Jadi dengan demikian Randu Kentir mempunyai pengertian batang/pohon randu yang terhanyut terbawa banjir.
Sebenarnya nama Randoe Kentir adala nama Group kesenian Trebang dari Desa Jumbleng Kecamatan Losarang yang di pimpin oleh Bapa Sarwa. penarinya Caya (meninggal tahun 2009) dan bi Seri ber umur 60 tahun dan tidak menari lagi sejak tahun 1980an.






Sebagai kesenian, tari rakyat adalah sumber kehidupan, penghidupan, bagi si pelaku, dirinya, dan alam/lingkungan yang dihidupinya..... Oleh karena itu pula tari rakyat sangat akrab dengan alam tempat lahirnya, sehingga apa yang disampaikan seolah-olah merupakan simbol penghubung antara masyarakat dengan alam, yang telah memberikan kehidupan dan penghidupannya. Bentuk  yang disampaikan melalui materi (tarian trebangan) yang sederhana, bebas dan spontan, menunjukan kepolosan dan kepasrahan hidup dari masyarakatnya.
Tari rakyat adalah tarian yang gerak terkait pada konteksnya, yaitu mengacu pada peristiwa alam atau peristiwa seseorang penguasa yang dianggap telah berjasa bagi masyarakat setempat dan diakuinya sebagai panutan oleh karuhun mereka secara turun temurun sampai sekarang. Seperti halnya tari rakyat yang ada di desa Jumbleng, Losarang, Indramayu, Jawa Barat. Tarian tersebut memiliki sejarah dan nilai Historis tersendiri bagi masyarakatnya, tarian tersebut adalah tari Trebang Randu Kentir.
Pemberian nama Randu Kentir sebetulnya masih baru. Sebelumnya bentuk kesenian ini cukup disebut seni Trebang. Secara harfiah pengertian Trebang Randu Kentir sebagai berikut :
Tari TRE’BANG RANDU KENTIR, yang artinya : TRE’ adalah TRE’P atau Tepat, dan BANG  dari kata tembang, jadi Trebang adalah tepat pada tembang. Randu adalah pohon randu (pohon kapuk); kentir adalah terhanyut/terbawa air mengalir sambil berputar-putar. Jadi dengan demikian Randu Kentir mempunyai pengertian batang/pohon randu yang terhanyut terbawa banjir.
Tari Trebang Randu Kentir pada awalnya sebagai upacara adat di desa Jumbleng, karena memiliki sejarah dan nilai yang dianggap masih berlaku bagi masyarakatnya.Sejarah tersebut yaitu dari kisah hanyutnya Ki Dariwan di Sungai Cimanuk.Kejadian ini oleh masyarakat :
“...  tiap tahun diadakan penghormatan kepada Nyi Dariwan,...” Tahun demi tahun masyarakat turut meramaikannya membantu membuat alat kesenian dari alat yang sederhana sampai terbuatnya Blangber, yaitu dari kayu yang besar penampangannya yang dilubangi di tengah ditutup dengan kulit binatang”. (Kasan, 1989, hal.1).

  Sedangkan nilai itu adalah tentang ajaran agama yang terdapat pada syair lagu pada tari Trebang Randu Kentir itu. Sejarah yang lain terdapatnya seorang penguasa di Losarang pada saat itu yaitu Ki Kuwu Sangkan yang menggunakan tari tersebut sebagai media dakwah atau sebagai penyebar agama Islam.
“Kelompok pertama yang paling besar adalah mereka yang benar-benar turunan seniman ... mereka ini umumnya para dalang wayang ..., dalang topeng atau penabuh gamelan untuk dua jenis ini. Kelompok yang satu lagi , yang lebih kecil, adalah kelompok seniman yang bukan keturunan seniman, atau keluarga mereka yang belum mempunyai sejarah yang panjang sebagai keluarga seniman.  ...   Seniman Cirebon mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap garis keturunannya. Mereka mengatakan bahwa mereka semua adalah keturunan Pangeran Panggung” (Endo Suanda, 1990, hal. 33;34).

Dari fungsinya sebagai upacara adat dan penyabar agama Islam pada waktu itu, dan karena perjalanan hidup yang berkembang sesuai dengan kemajuan jaman, maka kesenian juga mengikutinya. Dari yang terdapat di desa Jumbleng, Losarang ini tari tersebut memiliki fungsi yang beraneka ragam, yaitu diantaranya sebagai upacara adat yang meliputi upacara ngunjung, sedekah bumi, mapag sri.